(kiriman Ustd. Vicky)
Malam itu tak ada yang istimewa kecuali tatapanku pada sesuatu yang cukup menyedot seluruh isi jiwaku. Ya, suamiku berpamitan untuk memasuki kamar pengantinnya sambil mengatakan, "Titip anak-anak, ya Mi!" Tangisku pun meledak saat itu juga. Sakit sekali. Dan aku pun terbangun sambil menangis dengan air mata berderai ditingkahi dengan ekspresi kebingungan suamiku.
Ini adalah sepenggal mimpi yang kualami pada malam ketujuh pernikahanku. Bagi sebagian orang, mimpi hanya dianggap sebagai bunga tidur. Bagi seorang mukmin mimpi baik adalah dari Allah dan mimpi buruk dari setan. Bagiku, sulit untuk mengklasifikasikannya sebagai mimpi baik atau buruk.
Suatu saat di sebuah forum ta’aruf, pihak ikhwan menanyakan pandangan sang ukhti tentang poligami. Di luar dugaan akhwat yang sudah lama tertarbiyah itu menjawab dengan mantap, "Langkahi dulu mayatku!" Di kesempatan lain ada umahat yang ditanyai suaminya, "Gimana kalau Abi nikah lagi?" Dengan kalem isterinya menjawab, " Enakan gini ajalah, Bi!"
Poligami! Mungkin ini kata yang paling ditakuti oleh sebagian besar wanita. Dan membaca judul di atas lebih banyak wanita yang mengucap na’udzubillah daripada insya Allah. Memang harus diakui, ketakutan ini pun ternyata juga melingkupi kalangan da’iyah alias aktivis dakwah. Wajar memang. Karena, rasa cinta sering membuat kita tidak ingin berbagi, apalagi berbagi suami.
Pernah di suatu majalah, termuat tulisan seorang umahat yang suaminya baru saja meninggal: hati saya yang sedih bertambah sakit melihat sikap umahat lain yang kelihatan sudah mulai was-was kalau suami mereka nanti akan menikahi saya.
Dalam hidup ini kita dibebani untuk beribadah dan jadi khalifah. Dua tugas yang akan memuliakan, siapa pun yang berani dan sanggup memperjuangkannya. Termasuk dalam hal ini masalah poligami. Membayangkan suami menikah lagi saat kita masih hidup adalah sesuatu yang mengerikan. Minimal, tidak menyenangkan. Apa kata orang tua, tetangga, kerabat. Hal ini wajar, karena kesan poligami di masyarakat kita masih sangat negatif. Tapi, hukum Allah tidak akan berubah. Poligami diperbolehkan, artinya tidak dilarang walaupun juga tidak dianjurkan. Menjaga batas bahwa ini diperbolehkan, itulah yang tidak mudah.
Sering tanpa sadar, kita telah membuat hukum poligami menjadi haram. Minimal, makruh dengan berbagai alasan. Sehingga, bila hal itu dialami oleh sebagian dari kita, kita merasa perlu untuk turut berduka cita.
Kisah yang luar biasa saya dapatkan ketika seorang umahat dari kota gudeg melepas suaminya menikah lagi. Saat tamu-tamu umahat menyalaminya dengan tangis di wajah, maka dia malah bertanya: "Kenapa menangis? Padahal, ini adalah momen yang membahagiakan?" Subhanallah, inilah jawaban yang menunjukkan kejujuran iman.
Bicara mengenai poligami dalam aplikasinya yang `nyunnah‘, saya kira tidak ada masalah.
Dalam hal ini tidak ada yang menyakiti dan disakiti. Tapi, ini hanya bisa terwujud bila ketiga belah pihak menempatkan diri sesuai dengan porsinya masing-masing. Dan, porsi di sini adalah syariat Allah. Ini tidak mudah, kecuali bila lapang dada Allah karuniakan pada semua pihak yang terlibat di dalamnya. Lurusnya niat untuk semata-mata memohon kebaikan di dunia, akhirat, serta dakwah, juga sangat menentukan keberkahan dari keputusan untuk berpoligami.
Kembali ke mimpi saya. Dari tujuh hari pernikahan sampai memasuki tahun ketujuh. Dari hidup berdua, sampai hidup berlima dengan tiga buah hati. Waktu yang cukup lama untuk belajar tentang banyak hal, terutama belajar bagaimana mencintai. Belajar untuk terus menambah rasa syukur atas kesempatan yang Allah berikan berupa karunia pendamping yang shaleh. Belajar bahwa mencintai adalah keinginan untuk membahagiakan dan bukan sekadar keinginan untuk memiliki. Belajar bahwa was-was dan khawatir tentang apa pun yang akan terjadi adalah tipu daya setan. Maka, ketenangan pun merasuki seluruh jiwa dan raga.
Bila tahun-tahun awal pernikahan, canda suami tentang poligami selalu mendapat reaksi marah dan sedih. Terlepas, dari teori Ustadz Cahyadi, bahwa bila suami sering mengajak bicara soal poligami sebenarnya dia tidak benar-benar ingin melakukannya. Dan sebaliknya, jika suami jarang membicarakannya, kemungkinan besar dia malah benar-benar menginginkannya.
Saat ini, saya berharap bisa menjawab dengan arif, "Insya Allah, kalau itu akan membahagiakanmu dan akan menambah kecintaan Allah pada kita, maka aku jadi orang pertama yang akan mendukungmu untuk berpoligami." –wallahu’alam
Minggu, 17 Januari 2010
Istri untuk Suamiku
Diposting oleh
ALLES GUTE!
di
03.29
0
komentar
Kamis, 14 Januari 2010
catatan Kecil Penuh Cinta...Teruntuk Para Suami dan Istri...
Saat ku sentuh jemarimu dengan mesra
Duhai Allah,
Airmata itu pernah tumpah, deras bercucuran
Luruh dalam isakan, menyayat kepedihan
Hanya karena enggan jemari ini bersentuhan
Ampuni diri yang dzalim ini yaa Allah
Sadarkan, sebelum saatnya harus beranjak pergi
Jauh, dan... tak akan pernah kembali
Jemari itu tak lagi lentik. Terasa berbeda saat pertama kali disentuh kala malam pertama. Kulitnya bersisik dan berkerut, karena getir kehidupan. Guratan bekas parutan pun membuatnya bertambah kasar. Tak jarang jemari itu basah, menahan kristal-kristal bening yang menggenang di telaga mata. Pedih... teringat pedasnya kata yang pernah menusuk hati.
Kala keheningan malam menjamu temaramnya rembulan, diukirnya do'a-do'a dengan goresan harapan. Khusyu', berharap regukan kasih sayang dari Sang Pemilik Cinta. Hingga tubuh penat itupun bangkit, menatap belahan jiwa dengan tatapan cinta, kemudian perlahan dikecupnya sang kakanda dengan mesra.
Indah...
Sungguh teramat indah Al Qur'an melukiskannya, "Mereka itu adalah pakaian bagimu, dan kamu pun adalah pakaian bagi mereka."
Adakah yang lebih indah dari rasa kasih sayang diantara kedua insan yang berlainan jenis dalam sebuah ikatan pernikahan? Ia adalah sebuah mitsaqan ghalidza (perjanjian yang kuat), karenanya yang haram menjadi halal, maksiat menjadi ibadah, kekejian menjadi kesucian dan kebebasan pun menjadi sebuah tanggung jawab.
Dua hati yang berserakan akhirnya bertautan. Cinta karena Allah, bukankah hanya itu yang menjadikan mahligai cinta selalu indah?
Keindahan cinta dalam sebuah mahligai pernikahan adalah harapan penghuninya. Cinta akan membuat seseorang lebih mengutamakan yang dicintainya, sehingga seorang istri akan mengutamakan suami dalam keluarga. Seorang suami pun tentu akan mengutamakan perlindungan dan pemberian nafkah kepada istri tercinta.
Cinta memang dapat berbentuk kecupan sayang, kehangatan, dan perhatian. Namun bunga cinta tetaplah membutuhkan pupuk agar selalu bersemi indah. Karenanya, segala kekurangan akan menumbuhkan kebesaran jiwa. Hingga air mata yang mengalir itu pun adalah sebagai tanda kesyukuran kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, karena IA telah memberikan pasangan hidup yang selalu bersama mengharap keridhoan-Nya.
Lalu, masihkah kehangatan itu nyata seiring waktu arungan biduk cinta di luas samudera?
Aaah...
Kadang kita sebagai suami lebih sering bersikap dzalim. Kesibukan tiada henti, rutinitas yang selalu dijumpai, lebih menjadi 'istri' daripada makna istri itu sendiri. Masihkah ada curahan kelembutan dari seorang qowwam yang teduh? Adakah belaian kasih sayang yang begitu hangat seperti kala pertama kedua hati bersatu?
Saat-saat awal pernikahan, duhai sungguh romantis. Rona mata penuh makna cinta terpancar saat saling berpandangan, kedua tangan saling bergandengan, hingga jemari tersulam mesra. Malam dan siang silih berganti mewarnai hari. Susah senang timbul tenggelam bagaikan gelombang laut. Keluh dan bosan pun kadang menelusup, hingga akhirnya aura cinta pun meredup. Kemesraan pun hanyalah sekadar kenangan belaka.
Entahlah...
Entah di mana canda yang dahulu pernah membuat sang belahan jiwa tertawa bahagia. Ciuman di kening seraya berpesan "Baik-baik ya, di rumah," atau pun sekadar ucapan salam "Assalaamu alaykum," saat akan keluar rumah. Bahkan, lupa kapan terakhir tangan ini menyentuh, menggenggam mesra jemari istri tercinta. Padahal dosa-dosa akan berguguran dari sela jemari saat kedua tangan bertautan.
~ Do'a Seorang Istri ~
Ya Allah Ya Rahman Ya Rahim
Ampunilah dosa ku yg telah ku perbuat
Limpahkanlah aku dengan kesabaran yg tiada terbatas
Berikanlah aku kekuatan mental dan fisikal
Kurniakanlah aku dengan sifat keredhaan
Peliharalah lidahku dari kata-kata nista
Kuatkanlah semangatku menempuhi segala cobaanMu
Berikanlah aku sifat kasih sesama insan
Ya Allah
Sekiranya suami ku ini adalah pilihan Mu diArash
Berilah aku kekuatan dan keyakinan untuk terus bersamanya
Sekiranya suami ku ini adalah suami yg akan membimbing tanganku dititianMu
Kurniakanlah aku sifat kasih dan redha atas segala perbuatannya
Sekiranya suami ku ini adalah bidadara untuk ku di Jannah Mu
Limpahkanlah aku dengan sifat tunduk dan tawaduk akan segala perintahnya
Sekiranya suami ku ini adalah yang terbaik untukku di DuniaMu
Peliharalah tingkah laku serta kata-kataku dari menyakiti perasaannya
Sekiranya suami ku ini jodoh yang dirahmati olehMu
Berilah aku kesabaran untuk menghadapi segala cobaan
Tetapi Ya Allah
Sekiranya suami ku ini ditakdirkan bukan untuk diriku seorang
Kau tunjukkanlan aku jalan yg terbaik untuk aku harungi segala dugaanMu
Sekiranya suami ku tergoda dengan keindahan dunia Mu
Limpahkanlah aku kesabaran untuk terus membimbingnya
Sekiranya suami ku tunduk terhadap nafsu yang melalaikan
Karuniakanlah aku kekuatanMu untuk aku memperbaiki keadaanya
Sekiranya suami ku mencintai kesesatan
Kau pandulah aku untuk menarik dirinya keluar dari terus terlena
Ya Allah
Kau yang Maha Mebgetahui apa yang terbaik untukku
Kau juga yang Maha Mengampuni segala kehilapan dan ketelanjuranku
Sekiranya aku hilap dalam berbuat
Bimbinglah aku ke jalan yang Engkau redhai
Sekiranya aku lalai dalam tanggungjawabku sebagai isteri
Kau hukumlah aku didunia tetapi bukan diakhiratMu
Sekiranya aku ingkar dan durhaka
Berikanlah aku petunjuk kearah rahmatMu
Ya Allah sesungguhnya
Aku lemah tanpa petunjukMu
Aku buta tanpa bimbinganMu
Aku cacat tanpa hidayahMu
Aku hina tanpa RahmatMu
Ya Allah
Kuatkan hati dan semangatku
Tabahkan aku menghadapi segala cobaanMu
Jadikanlah aku isteri yang disenangi suami
Bukakanlah hatiku untuk menghayati agamaMu
Bimbinglah aku menjadi isteri Soleha
Hanya padaMu Ya Allah ku memohon segala harapan
Karena aku pasrah dengan dugaanMu
Karena aku sadar hinanya aku
Karena aku insan lemah yg kerap keliru
Karena aku terbuai dengan keindahan duniamu
Karena kurang kesabaran ku menghadapi cobaanMu
Karena pendek akal ku memahami ujianMu
Ya Allah Ya Tuhanku…
Aku hanya ingin menjadi isteri yang dirahmati
Isteri yang dikasihi
Isteri yang solehah
Isteri yang sentiasa dihati
Amin, amin Ya Rabbal Allamin..
Sumber: http://bundakeisya.wordpress.com/category/my-diary/
Diposting oleh
ALLES GUTE!
di
18.16
0
komentar
Rabu, 13 Januari 2010
Berlian-Berlian Kepribadian Rasulullaah SAW
(kiriman Papa Robbie)
BERLIAN PERTAMA
Berlian yang pertama, adalah Rasulullah yang agung ini hidup Zuhud luar biasa. Ia ikhlas tidur diatas tikar kasar hingga garis tikar tadi membekas di punggungnya. Bahkan tak jarang ia mengikatkan batu ke perut untuk
menahan rasa laparnya. Ketika Tuhan menawarkan kekayaan dunia, Nabi berakhlak paling mulia ini lebih memilih hidup Zuhud dan sederhana.
Rasulullah bersabda:
“Tuhanku menawarkan kepadaku bukit-bukit di Mekkah untuk dijadikan sebagai emas. Lalu saya menjawab : ”Hamba tidak mengharapkan itu semua wahai Tuhanku. Akan tetapi, saya lebih senang sehari lapar dan sehari kenyang. Tatkala kenyang, saya memuliakan dan bersyukur kepada-Mu. Sementara tatkala saya lapar,saya merendah dan berdoa kepada-Mu.” (HR. Ahmad)
BERLIAN KEDUA
Perhatian dan keperdulian Beliau kepada para sahabatnya seperti matahari menyinari bumi. Jika ia tak melhat sahabatnya selama tiga hari, ia akan menanyakan keadaannya. Jika sang sahabat tidak ada di rumah, beliau mendo’akannya. Sementara bila sang sahabat berada di rumah, beliau mengunjunginya.
BERLIAN KETIGA
Kemulian akhlaknya bak rembulan di kegelapan malam. Beliau sangat menghormati dan menyayangi tetangga.Tidak ada yang meminta kepadanya, kecuali beliau mengabulkannya. Beliau tidak berbincang dengan seseorang, kecuali disertai harapan kebaikan baginya. Beliau juga sangat menghormati wanita dan menyayangi anak-anak. Jika berpapasan dengan sekumpulan kaum wanita beliau akan mengucapkan salam terlebih dahulu pada mereka. Ia juga mengucapkan salam pada anak-anak belia.
BERLIAN KEEMPAT
Rasulullah Yang mulia dan kesayangan Tuhan ini seorang yang rendah hati serta tak pernah diam berpangku tangan. Beliau menambal sandalnya, menjahit sendiri pakaiannnya, memerah susu kambing peliharaannya dan mengerjakan sendiri semua keperluannya.
BERLIAN KELIMA
Beliau adalah suami paling manis dan romantis perlakuan pada istri-istrinya.Ini seperti digambarkan Aisyah dengan indah : “Para tentara berkumpul dan menari di mesjid pada hari raya. Lalu Nabi memanggilku. Saya menyandarkan kepala saya di pundak beliau. Dengan begitu saya bisa melihat permainan mereka sampai saya puas melihatnya.” (HR. MUSLIM)
BERLIAN KEENAM
Nabi Pilihan dan teladan manusia sepanjang jaman ini sangat menghormati pelayannya. Ia memperlakukan mereka dengan akhlaknya yang bak kilauan berlian di tengah samudera kehidupan. Anas menuturkan : ”Selama sepuluh tahun saya menjadi pelayan Rasulullah SAW, tidak pernah sama sekali beliau mencela saya,memukul, atau membentak saya. Beliau tidak pernah bermuka masam pada saya. Beliau juga tidak pernah mencaci maki saya karena keterlambatan saya
dalam melaksanakan suruhannya.” (HR. AHMAD)
BERLIAN KETUJUH
Akhlak beliau merupakan perwujudan Al Qur,an, kepribadiannya merupakan samudera berlian sepanjang jaman. Abu Abdillah Al-jadali bertanya kepada Aisyah : “Bagaimana akhlak Rasulullah SAW menurut istri-istrinya?” Aisyah menjawab : “Beliau adalah manusia yang paling baik budi pekertinya, Tidak pernah berbuat keji, kotor atau licik ketika di pasar. Beliaupun tidak pernah membalas keburukan atau aniaya orang lain dengan hal yang serupa, karena beliau seorang pemaaf dan toleran.” (HR. Bukhari)
BERLIAN KEDELAPAN
Beliau menjauhkan diri dari tiga hal: debat kusir, banyak bicara, dan segala sesuatu yang tidak bermanfaat. Selain itu, beliau juga mengiginkan manusia menjauhi tiga hal yaitu: tidak mencela orang lain, tidak mengungkap aibnya serta tidak mencari-cari kesalahannya.
BERLIAN KESEMBILAN
Kecintaannya pada orang-orang papa seperti air bening mengalir sepanjang kesejukan pegunungan. Ia berjalan akrab dengan para janda serta para kaum fakir miskin. Adakalanya dengan penuh cinta beliau menjahitkan sandal buat orang-orang papa serta menjahitkan pakaian untuk para janda.
BERLIAN KESEPULUH
Rasulullah SAW adalah orang banyak berzikir dan menghindari diri dari perkataan yang sia-sia. Banyak diam, mengawali dan mengakhiri perkataan dengan bahasa yang fasih sekali. Berbicara dengan bahasa yang singkat dan jelas tapi mempunyai makna yang sangat luas. Berbicara dengan perlahan dan tidak berlebihan.
Semoga bermanfaat...
Diposting oleh
ALLES GUTE!
di
09.46
0
komentar
Peran Islam dalam Urusan Cinta, Kasih Sayang, dan Rumah Tangga Sakinah.
Kiriman :Ustd Vicky R
Kalau kita mengajukan satu pertanyaan kepada setiap wanita yang kita jumpai : “apa impianmu yang paling utama dalam hidup ini?” dia pasti akan menjawab : “Menikah!” Lalu kalau kita menanyai pertanyaan lain :”Apa yang kamu inginkan dari menikah?” tentu dia akan menjawab :”Suami yang membuatku bahagia dan keluarga yang selalu aku sirami dengan air suci cinta dan kasih sayang”.
Inilah keinginan terbesar yang diimpikan setiap wanita. Lalu bagaimana cara mewujudkan impian tersebut? Bagaimana cara membangun keluaraga harmonis yang penuh cinta dan kasih sayang? Kalau kita mencari-cari cara terbaik untuk membangun keluarga idaman, pasti tidak akan menemukannya, kecuali dalam Islam. Mengapa hanya dalam Islam dan tidak yang lain?
Itu karena Islam telah meletakkan wanita pada posisi yang terhormat, posisi yang penuh dengan penjagaan dan pemeliharaan terhadap hak-haknya, posisi yang penuh dengan pengagungan dan penghormatan akan jati dirinya. Kehidupan rumah tangga dalam Islam adalah sesuatu yang suci, sesuci ritual ibadah kepada Allah. Mahligai rumah tangga laksna mihrab yang diterangi pelita kesucian yang tidak boleh dikotori dengan benda-benda najis.
Pasangan suami istri dalam kaca mata Islam tidak berjumpa dalam mahligai rumah tangga secara serampangan, tidak juga karena suatu kebetulan. Masing-masing tidak pernah menyerahkan dirinya kepada yang lain, tetapi keduanya bersua di atas meja cinta dan keserasian. Hati keduanya saling memahami sebelum lisan berbicara. Itulah asas rumah tangga dalam Islam, CINTA dan KASIH SAYANG. Islam memberikan kebebasan kepada wanita untuk menentukan pasangan hidupnya, yaitu kebebasan yang sama besarnya dengan kebebasan yang diberikan kepada laki-laki dalam menentukan teman hidupnya. Orang tua tidak berhak memaksa anak gadisnya untuk menikah dengan pemuda yang tidak dicintainya, karena pemaksaan hanya akan berakibat penyesalan yang tiada berujung.
Laki-laki juga demikian. Tidak mungkin menikah dengan seorang gadis hanya untuk menyenangkan ibunya atau ayahnya. Dia akan menikahi gadis yang menurutnya bisa menjadi naungan seperti sebuah pohon rindang, yang bisa menghilangkan rasa letih dalam mengarungi perjalanan hidup yang panjang dan melelahkan, dan yang bisa menghilangkan haus dan lapar dengan buahnya yang ranum dan segar.
Islam telah memerintahkan suami untuk menjaga istrinya dengan baik, menyayanginya sepenuh hati seperti sinar rembulan yang menerangi pejalan kaki di tengah malam yang gelap gulita. Cinta yang tulus dari seorang suami akan membuat si istri tabah dan kuat dalam mengarungi kehidupan yang kerap diterjang badai dan ombak. Suami harus membantu istrinya dalam mengurus rumah tangganya, menyuapinya makanan dengan penuh kasih sayang, menghiburnya kala cobaan datang mengeruhkan beningnya kehidupan, memupuk cinta yang ada di hatinya, menjaga lisannya agar tetap berkata lemah lembut penuh kemesraan, pujian, dan sanjungan terhadap istrinya, memuji kecantikannya ketika memakai baju baru, atau menyisir rambutnya yang panajang tergerai. Suami juga harus membisikkan kata-kata cinta penuh kemesraan di telinganya ketika mencium harumnya wewangian yang dipakainya, memuji kepandainnya dalam menghidangkan masakan yang lezat, mengatur perabotan rumah tangga dan menjaga kebersihan rumah dan lingkungannya.
Suami juga harus pandai berterimakasih atas kemampuan istrinya dalam mengatur perekonomian keluarga, memuji kepandainya dalam menyesuaikan pengeluaran dan pemasukan, memahami kekurangan yang dimiliki istrinya. Jika ada kekeliruan Ia tidak menegurnya dengan kata-kata kasar penuh cacian dan penghinaan, tetapi dengan kata-kata lembut yang menyentuh perasaanya. Suami harus senantiasa menampakan sikap yang menyenangkan istrinya, seakan akan istrinya adalah wanita tercantik dan termanis yang pernah ada, yang setiap hari nampak bertambah cantik dan menarik perhatiannya. Tanpa istrinya seakan hidupnya tiada arti.
Seorang suami juga harus menganjurkan istrinya untuk bersilaturrahim, mengunjungi kerabat dekat dan familinya sebisa mungkin, menganggap keluarga istrinya seperti keluarga sendiri, dan mengagumi apa yang dikagumi istrinya, sehingga hati istrinya merasa tenang, karena dia merasa bahwa perasaannya klop dengan perasaan suaminya. Suami juga harus bisa mengikuti hobbi yang disenangi istrinya sebisa mungkin. Dengan catatan bahwa hobbi tersebut tidak bertentangan dengan ajaran -ajaran islam. Jika itu terjadi, maka suami harus mampu membatasinya sebijak mungkin.
Suami juga harus berusaha menjadikan kehidupan rumah tangganya seperti sebuah cermin. Bayangan yang ada di dalamnya adalah sesuatu yang nyata, bukan palsu dan tipuan. Dia tidak boleh menampakkan satu wajah di hadapan istrinya, dan wajah yang lain ketika berada jauh darinya, karena Islam menjadikan orang-orang munafiq sebagai kelompok manusia yang mendapatkan adzab paling pedih pada hari Kiamat.
Perhatian adalah sesuatu yang sangat penting dalam keluarga. Suami harus selalu mencurahkannya untuk istri dan seluruh anggota keluarganya. Perasaan juga tidak kalah pentingnya. Karena itu, suami harus selalu berusaha memperbarui perasaan cintanya kepada istrinya. Hal itu bisa dilakukan dengan cara selalu menampakkan cinta dan kasih sayangnya, merasa takut kehilangannya, dan selalu meyakinkan istrinya bahwa ia adalah dunia dan akhiratnya. Ingat, istri itu selalu pencemburu, bahkan terhadap seorang bidadari sekalipun yang dijanjikan untuk setiap laki-laki di surga kelak.
Suami juga harus hati-hati dalam bersikap di hadapan keluarga istrinya. Dia seharusnya memperlakukan mereka dengan sopan dan santun. Jangan sekali-kali memancing kemarahan mereka. Lebih baik bersikap penuh kehatia-hatian layaknya dia sedang menghadapi binatang buas yang setiap saat bisa menerkamnya.
Dalam urusan belanja pribadinya, suami juga harus mengencangkan ikat pinggangnya. Jangan sampai dia bersikap boros. Usahakan untuk tidak membeli sesuatu kecuali yang sangat mendesak dan benar-benar dibutuhkan, berusaha untuk menambah penghasilan dengan cara-cara yang halal, dan tidak membuang-buang waktu untuk sesuatu yang tidak bermanfaat, baik bagi dirinya maupun keluarganya, karena menggunakan waktu sebaik mungkin untuk kepentingan keluarga adalah sebuah jihad di Jalan Allah yang akan diberi pahala.
Dalam urusan pendidikan, suami harus bisa bekerjasama dengan istrinya dalam mendidik anak-anak, terutama dalam masa balita dan remaja, karena mereka adalah buah cinta keduanya. Mematangkan mereka dalam bidang keilmuan dan moral adalah tanggungjawab berdua secara bersamaan. Suami harus berusaha sekuat tenaga untuk menyenangkan istri dan anak-anaknya, dan yang penting adalah bagaimana dia bisa menjadi suri tauladan yang baik bagi mereka dalam segala aspek kehidupan. Ingat , suami adalah pemimpin dalam rumah tangga. Keutuhan dan kehancurannya ditangan suami.
Itulah sekilas tentang ajaran Islam bagi suami dalam rumah tangga, supaya rumah tan gganya menjadi sakinah penuh cinta dan kasih sayang, jauh dari segala pertengkaran dan pergolakan. Lalu bagaimana ajaran Islam untuk para istri dalam rangka menciptakan rumah tangga yang bahagia? Islam mengajarkan untuk mereka kebahagiaan, ketentraman, kedamaian, rasa aman yang tinggi, dan kesejahteran.
Istri harus berusaha menjadi pusat perhatian suaminya, dengan senyum manis senantisa terkembang, pandangannya hangat penuh cinta dan tutur kata lembut penuh kemanjaan. Ia harus selalu berusaha menjadi seorang bidadari di rumahnya. Tubuhnya harum mewangi, wajahnya cerah, perilakunya lembut, dan tutur katanya mendatangkan kedamaian di hati, sehingga suami benar-benar merasa bahwa rumahnya adalah surga yang penuh kenikmatan dan kesenangan.
Ia bagaikan bunga yang segar dan menyejukkan mata. Hatinya bening sebening mata air pegunungan. Senyumannya manis semanis telaga madu. Wajahnya terang secerah bulan purnama. Jika suaminya sakit, ia menjadi dokter pribadinya yang senantiasa setia menemaninya. Jika dunia gelap di matanya, ia menjadi pelita yang siap menerangi jalannya. Jika ia kehausan, ia menjadi pelepas dahaga yang menyejukkan. Pokoknya, apapun yang dilakukannya selalu menebarkan pesona di mata suaminya. Kelemah lembutannya dalam memperlakukan suaminya sama dengan perlakuannya terhadap teman-teman deketnya, penuh keakraban dan senda gurau.
Istri yang baik tidak pernah merasa tenang jika suami tercintanya berada dalam masalah. Matanya tidak pernah bisa dipejamkan manakala suaminya bersedih dan bermuram durja. Perasaanya yang halus mampu mendeteksi apa yang ada dalam hati suaminya sebelum ia mengatakannya. Ia bisa menebak apa yang berkecamuk dalam benak suaminya sebelum ia menceritakannya.
Istri muslimah yang shalihah hidup dengan suaminya sepenuh hati, sepenuh perasaan, sepenuh jiwa dan raganya. Perasaan dan pikirannya tidak pernah lepas dari pasangannya. Detak jantungnya adalah detak jantung suaminya, selalu berbagi suka maupun duka. Dikala suka ia membaginya untuk suami tercinta. Senyum diwajah suaminya mampu menghilangkan semua duka yang menderanya. Suami baginya adalah benteng yang kokoh, pedang yang tajam, sungai yang mengalirkan air jernih, ladang yang subur, dan pelita yang terang benderang.
Ibadah menjadi aktivitas yang tak pernah terlewatkan. Dia mendekatkan diri kepada Rabbnya dengan melayani suaminya setulus hati. Bukankah islam telah menjadikan ketulusan seorang istri terhadap suaminya setara dengan jihad fi sabilillah dalam hal ganjarannya? Seorang istri bisa menadapatkan pahala ash-shiddiqin (orang-orang jujur dan tulus) jika selalu jujur dalam tindakan dan ucapannya. Dia juga bisa mendapatkan pahala al-abrar (ahli kebajikan) jika mampu memenuhi semua kewajiban terhadap suaminya. Dia juga bisa mendapatkan pahala asy-syuhada jika ia mampu melewati kesulitan dalam mengurus suami dan anak-anaknya.
Jika ia mampu menjaga kehormatan dan melaksanakan kewajibannya dengan baik, do`anya bisa terkabul dan masuk surga dari pintu manapun dia suka Subhanaallah. Dia juga akan senantiasa dijaga oleh para malaikat jika mampu mensucikan fitrah dan akhlaknya dari segala kotoran dan najis ruhaniyah. Dia juga bisa menjadi bidadari suci jika mampu membersihkan hatinya dengan air keimanan dan menjaganya dari bisikan-bisikan hawa nafsu. Dia juga bisa mencatat sejarah dengan melahirkan generasi genius jika mampu mendidik anak-anaknya dengan pendidikan Islam.
Untuk mewujudkan semua impian itu tiada yang bisa dilakukannya, kecuali mencontoh para wanita shaleh, menjadikan mereka figur-figur yang diidolakan sepanjang masa. Mereka berbagi suka dan duka dengan suami-suami mereka tanpa keluh kesah. Perjuangan mereka layak mendapatkan medali penghargaan yang layak selayak yang diterima para syuhada yang gugur di medan perang. Bukankah Allah telah memuji mereka dalam Al Qur`an Al Kariim?
Wanita memiliki kemampuan luar biasa dalam menciptkan kehidupan yang baik. Jika ia memiliki impian untuk menyulap rumhnya menjadi kebun surga yang indah, pasti ia mampu melakukannya dengan sedikit biaya. Rumah tangga yang baik bukanlah rumah yang selalu dipenuhi dengan perabotan mewah dan modern. Tapi rumah kebahagiaan adalah yang mampu menyatukan banyak hati yang disinari cinta dan kasih sayang, keserasian, kesetian, dan ketulusan untuk hidup berbagi suka dan duka dalam segala suasana. Betapa besar perhatian Islam dalam urusan cinta! Pastilah salah besar jika ada yang menuduh Islam mengajarkan kekerasan dan teror.
(Sumber: Kitab “Madkhol ila qolbi Hawaa`” (Menyelami hati Wanita), karangan : `Abdul Mun`im Qindil).
Diposting oleh
ALLES GUTE!
di
05.08
0
komentar
Jumat, 08 Januari 2010
Bahaya dan Akibat Buruk Zina...
ZINA merupakan kejahatan yang sangat besar yang memberi kesan amat buruk kepada penzina itu sendiri, khususnya dan kepada seluruh umat amnya. Di zaman sekarang di mana banyaknya saluran dan media yang berusaha menyeret kearah perbuatan keji ini, maka amat perlu untuk setiap orang mengetahui bahaya dan akibat buruk yang timbul dari dosa zina. Kita semua hendaklah lebih berhati-hati dan berwaspada agar tidak terjerumus, walaupun hanya mendekatinya.
Di antara akibat buruk dan bahaya tersebut adalah :
* Dalam zina terkumpul bermacam-macam dosa dan keburukan yakni berkurangnya agama si penzina, hilangnya sikap wara’ (menjaga diri dari dosa), buruk keperibadian dan hilangnya rasa cemburu.
* Zina membunuh rasa malu, padahal dalam Islam malu merupakan suatu hal yang amat diambil berat dan perhiasan yang sangat indah khasnya bagi wanita.
* Menjadikan wajah pelakunya muram dan gelap.
* Membuat hati menjadi gelap dan mematikan sinarnya.
* Menjadikan pelakunya selalu dalam kemiskinan atau merasa demikian sehingga tidak pernah merasa cukup dengan apa yang diterimanya.
* Akan menghilangkan kehormatan pelakunya dan jatuh martabatnya baik di hadapan Allah mahupun sesama manusia.
* Allah akan mencampakkan sifat liar di hati penzina, sehingga pandangan matanya liar dan tidak terkawal.
* Pezina akan dipandang oleh manusia dengan pandangan mual dan tidak percaya.
* Zina mengeluarkan bau busuk yang mampu dihidu oleh orang-orang yang memiliki ‘qalbun salim’ (hati yang bersih) melalui mulut atau badannya.
* Kesempitan hati dan dada selalu meliputi para pezina. Apa yang ia dapati dalam kehidupan ini adalah sebalik dari apa yang diingininya. Ini adalah kerana, orang yang mencari kenikmatan hidup dengan cara bermaksiat kepada Allah maka Allah akan memberikan yang sebaliknya dari apa yang dia inginkan, dan Allah tidak menjadikan maksiat sebagai jalan untuk mendapatkan kebaikan dan kebahagiaan.
* Penzina telah mengharamkan dirinya untuk mendapat bidadari yang jelita di syurga kelak.
* Perzinaan menyeret kepada terputusnya hubungan silaturrahim, derhaka kepada orang tua, pekerjaan haram, berbuat zalim, serta menyia-nyiakan keluarga dan keturunan. Bahkan boleh membawa kepada pertumpahan darah dan sihir serta dosa-dosa besar yang lain. Zina biasanya berkait dengan dosa dan maksiat yang lain sebelum atau bila berlakunya dan selepas itu biasanya akan melahirkan kemaksiatan yang lain pula.
* Zina menghilangkan harga diri pelakunya dan merosakkan masa depannya di samping meninggalkan aib yang berpanjangan bukan sahaja kepada pelakunya malah kepada seluruh keluarganya.
* Aib yang dicontengkan kepada pelaku zina lebih membekas dan mendalam daripada asakan akidah kafir, misalnya, kerana orang kafir yang memeluk Islam selesailah persoalannya, namun dosa zina akan benar-benar membekas dalam jiwa kerana walaupun akhirnya pelaku zina itu bertaubat dan membersihkan diri dia akan masih merasa berbeza dengan orang yang tidak pernah melakukannya.
* Jika wanita yang berzina hamil dan untuk menutupi aibnya ia mengugurkan kandungannya itu maka dia telah berzina dan juga telah membunuh jiwa yang tidak berdosa . Jika dia ialah seorang wanita yang telah bersuami dan melakukan kecurangan sehingga hamil dan membiarkan anak itu lahir maka dia telah memasukkan orang asing dalam keluarganya dan keluarga suaminya sehingga anak itu mendapat hak warisan mereka tanpa disedari siapa dia sebenarnya. Amat mengerikan, naudzubillah min dzalik.
* Perzinaan akan melahirkan generasi individu-individu yang tidak ada asal keturunan (nasab). Di mata masyarakat mereka tidak memiliki status sosial yang jelas.
* Pezina laki-laki bererti telah menodai kesucian dan kehormatan wanita.
* Zina dapat menyemai permusuhan dan menyalakan api dendam antara keluarga wanita dengan lelaki yang telah berzina dengannya.
* Perzinaan sangat mempengaruhi jiwa kaum keluarganya di mana mereka akan merasa jatuh martabat di mata masyarakat, sehingga kadang-kadang menyebabkan mereka tidak berani untuk mengangkat muka di hadapan orang lain.
* Perzinaan menyebabkan menularnya penyakit-penyakit berbahaya seperti aids, siphilis, dan gonorhea atau kencing bernanah.
* Perzinaan menjadikan sebab hancurnya suatu masyarakat yakni mereka semua akan dimusnahkan oleh Allah akibat dosa zina yang tersebar dan yang dilakukan secara terang-terangan.
HUKUMAN ZINA
Demikianlah besarnya bahaya dosa zina, sehingga Ibnul Qayyim, ketika mengulas tentang hukuman bagi penzina, berkata: “Allah telah mengkhususkan hadd (hukuman) bagi pelaku zina dengan tiga kekhususan iaitu:
* Pertama, hukuman mati secara hina (rejam) bagi pezina kemudian diringankan (bagi yang belum nikah) dengan dua jenis hukuman, hukuman fizikal yakni dirotan seratus kali dan hukuman mental dengan diasingkan selama satu tahun.
* Kedua, Allah secara khusus menyebutkan larangan merasa kasihan terhadap penzina. Umumnya sifat kasihan adalah diharuskankan bahkan Allah itu Maha Pengasih namun rasa kasihan ini tidak boleh sehingga menghalang dari menjalankan syariat Allah. Hal ini ditekankan kerana orang biasanya lebih kasihan kepada penzina daripada pencuri, perompak, pemabuk dan sebagainya. Di samping itu penzinaan boleh dilakukan oleh siapa sahaja termasuk orang kelas atasan yang mempunyai kedudukan tinggi yang menyebabkan orang yang menjalankan hukuman merasa enggan dan kasihan untuk menjalankan hukuman.
* Ketiga, Allah memerintahkan agar pelaksanaan hukuman zina disaksikan oleh orang-orang mukmin dengan maksud menjadi pengajaran dan memberikan kesan positif bagi kebaikan umat.
BEBERAPA PERKARA PENTING YANG PERLU DIPERHATIKAN
Orang yang berzina dengan banyak pasangan lebih besar dosanya daripada yang berzina hanya dengan satu orang, demikian juga orang yang melakukanya berkali-kali dosanya lebih besar daripada yang melakukannya hanya sekali.
* Penzina yang berani melakukan maksiat ini dengan terang-terangan lebih buruk daripada mereka yang melakukannya secara sembunyi-sembunyi.
* Berzina dengan wanita yang bersuami lebih besar dosanya daripada dengan wanita yang tidak bersuami kerana adanya unsur perbuatan zalim (terhadap suami wanita), boleh menyalakan api permusuhan dan merosak keutuhan rumah tangganya.
* Berzina dengan jiran lebih besar dosanya daripada orang yang jauh rumahnya.
* Berzina dengan wanita yang sedang ditinggalkan suami kerana perang (jihad) lebih besar dosanya daripada dengan wanita lain.
* Berzina dengan wanita yang ada pertalian darah atau mahram lebih jahat dan hina daripada dengan yang tidak ada hubungan mahram.
* Ditinjau dari segi waktu maka berzina di bulan Ramadhan, baik siangnya ataupun malamnya, lebih besar dosanya daripada waktu-waktu lain.
* Kemudian dari segi tempat dilakukannya, maka berzina di tempat-tempat suci dan mulia lebih besar dosanya deripada tempat yang lain.
* Pezina muhson (yang sudah bersuami atau beristeri) lebih hina daripada gadis atau jejaka, orang tua lebih buruk daripada pemuda, orang alim lebih buruk daripada yang jahil dan orang yang berkemampuan (terutama dari segi ekonomi) lebih buruk deripada orang fakir atau lemah.
BERTAUBAT
Bertaubat ini bukan khusus hanya kepada penzina, bahkan kepada sesiapa sahaja yang menunjukkan jalan untuk terjadinya zina, membantu dan memberi peluang kepada pelakunya dan siapa saja yang ikut terlibat di dalamnya. Hendaknya mereka semua segera kembali dan bertaubat dengan sungguh-sungguh, menyesali apa yang pernah dilakukannya dan berusaha sekuat tenaga untuk tidak kembali melakukannya. Dan yang paling penting adalah memutuskan hubungun dengan siapa sahaja dan apa sahaja yang boleh menarik ke arah perbuatan keji tersebut. Dengan demikian diharapkan Allah akan menerima taubat itu dan mengampuni segala dosa yang pernah dilakukan, dan ingatlah, tidak ada istilah ‘putus asa’ dalam mencari rahmat Allah.
Allah berfirman, mafhumnya:
“Dan orang-orang yang tidak menyembah ilah yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barangsiapa yang melakukan demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa (nya), (yakni) akan dilipat gandakan azab untuknya pada hari kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina, kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh; maka mereka itu kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. ” (QS. 25:68-70)
Disaring dari risalah Daarul Wathan judul Min mafasid az-zina, karya Muhammad bin Ibrahim al Hamd.
Diposting oleh
ALLES GUTE!
di
19.06
0
komentar
Renungan Pagi di Hari yang Sejuk....
Ust. Vicki.R
Hakekat hidup adalah menjalani, mungkin sebagian orang sering berkata dengan landai, Sudahlah hidup ini “JALANI SAJA...”. Mungkin sebagian kita bertanya, mengapa tidak berusaha sekuat tenaga ?, dua-duanya benar, hanya, di letakkan di mana ungkapan tersebut. Manusia merupakan makluk paling sempurna di muka bumi, kesempurnaanya di letakkan dalam Akal dan Fikiran. Sedangkan akal dan fikiran hidup karena adanya Zat Mulia dari Allah yang sering disebut dengan Zat Ilahi atau Ruhul Qudus yang ada dalam diri manusia, sehingga manusia dikatakan Wali di muka bumi. Wakil Allah untuk memelihara dan memanfaatkan bumi dan isinya. Catatan... Manusia dalam memelihara dan memanfaatkan bumi dan isinya harus sesuai dengan aturan yang telah ditetapkan sebagaimana firman Tuhan dalam kitab-kitab-Nya.
Bila sebagian manusia berujar ” Hidup ini jalani saja... atau hidup ini tinggal menjalani...”. mungkin mereka mendasari, dengan keyakinan yang sangat tinggi bahwa apa yang terjadi kepada diri kita dan semua manusia, itu merupakan “ Kejadian yang terbaik ”, dan sesuai ketentuan yang telah ditentukan oleh Tuhan. Tentunya hal itu sesuai dengan amal perbuatan masing-masing manusia. Sehingga dalam firman-Nya “ sekecil apapun perbuatan manusia, walaupun sebiji zarah, maka akan dibalas “, yang artinya juga bisa dimaknai “ Baik dengan baiknya, buruk dengan buruknya”.
Penyederhanaan ungkapan “ HIDUP INI JALANI SAJA”, sesungguhnya mengadung makna yang sangat dalam, di mana ungkapan tersebut terdapat perilaku sederhana, jujur, iklas dan legowo. Tentunya dalam ungkapan tersebut mempunyai implikasi “ Mencoba menikmati detik-demi detik seiring perjalanan waktu “. Nah dalam kesadaran yang demikian tinggi itulah sesungguhnya manusia mampu berfikir dengan tenang, arif, lembut dan teliti. Akhirnya manusia bisa menikmati hidup dan mengurai persoalan demi persoalan, sehingga mampu mendapatkan hakekat peristiwa yang dialami yang akhirnya mendapat manfaat dan berkah dalam setiap langkah, inikah wujud ibadah sesungguhnya..?. lantas apa yang dimaksud dengan persoalan hidup...?. sesungguhnya tergantung dari mana sisi pandang serta bagai mana mensikapinya. Mungkin demikian..?.
Yang diangankan dan yang dicita-citakan manusia adalah bahagia, selamat di dunia dan di akhirat. Dan yang ditakuti adalah persoalan. Padahal keduanya merupakan untaian setali tiga uang. Satu keping uang yang bernilai sama, hanya berbeda gambaran. Apakah akan mempersoalkan gambarnya..? atau mencoba memanfaatkannya sesuai nilainya, untuk mencapai tujuan...?, mari kita renungkan bersama
============================
Ridha Allah SWT selalu diberikan kepada mereka yang ber-mujahadah (Bersungguh-sungguh). Kesungguhan itu selalu membawa dampak didalam diri seseorang seperti meningkatnya kualitas hidup.
Kehidupan manusia dikendalikan oleh perasaan bahagia dan derita, ketika kebahagiaan hadir penderitaan telah menanti. Semuanya datang silih berganti begitu cepat dan tidak pasti bagaikan pendulum.
Mujahadah adalah kesungguhan untuk mengendalikan hidupnya supaya tidak dikuasai oleh perasaannya sendiri. Melainkan mengendalikan kebahagiaan dan penderitaan, bagi orang yang bermujahadah keduanya disambut dengan riang gembira. Disaat menyambut kehidupan dengan riang gembira, disaat itulah ridha Allah SWT hadir didalam diri kita dan terlihat dalam perilaku dengan meningkatnya kualitas hidup dan iman kita, dalam wujud pikiran, ucapan dan tindakan memiliki manfaat
bagi orang lain.
Orang yang mendapatkan ridha Allah SWT berarti dirinya telah menjadi manusia terbaik, seperti sabda Nabi SAW, Khoirun Nas, An-fa'un Nas. "Manusia terbaik adalah Manusia yang membawa manfaat bagi orang lain.."
"Dan di antara manusia ada orang yang ucapannya tentang kehidupan dunia menarik hatimu, dan dipersaksikannya kepada Allah (atas kebenaran) isi hatinya, padahal ia adalah penantang yang paling keras." (Al Baqarah:204)
Diposting oleh
ALLES GUTE!
di
18.59
0
komentar
merasakan Ketenangan Jiwa dengan Cara Islami...
ust. Vicki R
Dalam perkembangan hidupnya, manusia seringkali berhadapan dengan berbagai masalah yang mengatasinya berat. Akibatnya timbul kecemasan, ketakutan dan ketidaktenangan, bahkan tidak sedikit manusia yang akhirnya kalap sehingga melakukan tindakan-tindakan yang semula dianggap tidak mungkin dilakukannya, baik melakukan kejahatan terhadap orang lain seperti banyak terjadi kasus pembunuhan termasuk pembunuhan terhadap anggota keluarga sendiri maupun melakukan kejahatan terhadap diri sendiri seperti meminum minuman keras dan obat-obat terlarang hingga tindakan bunuh diri.
Oleh karena itu, ketenangan dan kedamaian jiwa sangat diperlukan dalam hidup ini yang terasa kian berat dihadapinya. Itu sebabnya, setiap orang ingin memiliki ketenangan jiwa. Dengan jiwa yang tenang kehidupan ini dapat dijalani secara teratur dan benar sebagaimana yang dikehendaki Allah dan Rasul-Nya. Untuk bisa menggapai ketenangan jiwa, banyak orang yang mencapainya dengan cara-cara yang tidak Islami, sehingga bukan ketengan jiwa yang didapat tapi malah membawa kesemrautan dalam jiwanya itu. Untuk itu, secara tersurat, Al-Qur'an menyebutkan beberapa kiat praktis.
1. Dzikrullah
Dzikir kepada Allah Swt merupakan kiat untuk menggapai ketenangan jiwa, yakni dzikir dalam arti selalu ingat kepada Allah dengan menghadirkan nama-Nya di dalam hati dan menyebut nama-Nya dalam berbagai kesempatan. Bila seseorang menyebut nama Allah, memang ketenangan jiwa akan diperolehnya. Ketika berada dalam ketakutan lalu berdzikir dalam bentuk menyebut ta'awudz (mohon perlindungan Allah), dia menjadi tenang. Ketika berbuat dosa lalu berdzikir dalam bentuk menyebut kalimat istighfar atau taubat, dia menjadi tenang kembali karena merasa telah diampuni dosa-dosanya itu. Ketika mendapatkan kenikmatan yang berlimpah lalu dia berdzikir dengan menyebut hamdalah, maka dia akan meraih ketenangan karena dapat memanfaatkannya dengan baik dan begitulah seterusnya sehingga dengan dzikir, ketenangan jiwa akan diperoleh seorang muslim, Allah berfirman yang artinya: "(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah. Ingatlah hanya dengan mengingat Allahlah hati menjadi tentram". (13:28).
Untuk mencapai ketenangan jiwa, dzikir tidak hanya dilakukan dalam bentuk menyebut nama Allah, tapi juga dzikir dengan hati dan perbuatan. Karena itu, seorang mu'min selalu berdzikir kepada Allah dalam berbagai kesempatan, baik duduk, berdiri maupun berbaring.
2. Yakin Akan Pertolongan Allah
Dalam hidup dan perjuangan, seringkali banyak kendala, tantangan dan hambatan yang harus dihadapi, adanya hal-hal itu seringkali membuat manusia menjadi tidak tenang yang membawa pada perasaan takut yang selalu menghantuinya. Ketidaktenangan seperti ini seringkali membuat orang yang menjalani kehidupan menjadi berputus asa dan bagi yang berjuang menjadi takluk bahkan berkhianat.
Oleh karena itu, agar hati tetap tenang dalam perjuangan menegakkan agama Allah dan dalam menjalani kehidupan yang sesulit apapun, seorang muslim harus yakin dengan adanya pertolongan Allah dan dia juga harus yakin bahwa pertolongan Allah itu tidak hanya diberikan kepada orang-orang yang terdahulu, tapi juga untuk orang sekarang dan pada masa mendatang, Allah berfirman yang artinya: "Dan Allah tidak menjadikan pemberian bala bantuan itu melainkan sebagai khabar gembira bagi (kemenangan)mu, dan agar tentram hatimu karenanya. Dan kemenangan itu hanyalah dari Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana". (3:126, lihat juga QS 8:10).
Dengan memperhatikan betapa banyak bentuk pertolongan yang diberikan Allah kepada para Nabi dan generasi sahabat dimasa Rasulullah Saw, maka sekarangpun kita harus yakin akan kemungkinan memperoleh pertolongan Allah itu dan ini membuat kita menjadi tenang dalam hidup ini. Namun harus kita ingat bahwa pertolongan Allah itu seringkali baru datang apabila seorang muslim telah mencapai kesulitan yang sangat atau dipuncak kesulitan sehingga kalau diumpamakan seperti jalan, maka jalan itu sudah buntu dan mentok. Dengan keyakinan seperti ini, seorang muslim tidak akan pernah cemas dalam menghadapi kesulitan karena memang pada hakikatnya pertolongan Allah itu dekat, Allah berfirman yang artinya: "Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk syurga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu?. Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah rasul dan orang-orang yang beriman: "bilakah datangnya pertolongan Allah?". Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat". (QS 2:214).
3. Memperhatikan Bukti Kekuasaan Allah
Kecemasan dan ketidaktenangan jiwa adalah karena manusia seringkali terlalu merasa yakin dengan kemampuan dirinya, akibatnya kalau ternyata dia merasakan kelemahan pada dirinya, dia menjadi takut dan tidak tenang, tapi kalau dia selalu memperhatikan bukti-bukti kekuasaan Allah dia akan menjadi yakin sehingga membuat hatinya menjadi tentram, hal ini karena dia sadari akan besarnya kekuasaan Allah yang tidak perlu dicemasi, tapi malah untuk dikagumi. Allah berfirman yang artinya: "Dan ingatlah ketika Ibrahim berkata: "Ya Tuhanku, perlihatkanlah padaku bagaimana Engkau menghidupkan orang mati". Allah berfirman: "Belum yakinkah kamu?". Ibrahim menjawab: "Aku telah meyakininya, akan tetapi agar hatiku tenang (tetap mantap dengan imanku)". Allah berfirman: ("kalau begitu) ambillah empat ekor burung, lalu cincanglah, kemudian letakkan di atas tiap-tiap satu bukit satu satu bagian dari bagian-bagian itu, kemudian panggillah mereka, niscaya mereka datang kepadamu dengan segera". Dan ketahuilah bahwa Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana". (QS 2:260).
4. Bersyukur
Allah Swt memberikan kenikmatan kepada kita dalam jumlah yang amat banyak. Kenikmatan itu harus kita syukuri karena dengan bersyukur kepada Allah akan membuat hati menjadi tenang, hal ini karena dengan bersyukur, kenikmatan itu akan bertambah banyak, baik banyak dari segi jumlah ataupun minimal terasa banyaknya. Tapi kalau tidak bersyukur, kenikmatan yang Allah berikan itu kita anggap sebagai sesuatu yang tidak ada artinya dan meskipun jumlahnya banyak kita merasakan sebagai sesuatu yang sedikit.
Apabila manusia tidak bersyukur, maka Allah memberikan azab yang membuat mereka menjadi tidak tenang, Allah berfirman yang artinya: "Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tentram, rizkinya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi (penduduk) nya mengingkari nikmat-nikmat Allah; karena itu Allah merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang selalu mereka perbuat". (QS 16:112).
5. Tilawah, Tasmi' dan tadabbur Al-Qur'an
Al-Qur'an adalah kitab yang berisi sebaik-baik perkataan, diturunkan pada bulan suci Ramadhan yang penuh dengan keberkahan, karenanya orang yang membaca (tilawah), mendengar bacaan (tasmi') dan mengkaji (tadabbur) ayat-ayat suci Al-Qur'an niscaya menjadi tenang hatinya, manakala dia betul-betul beriman kepada Allah Swt, Allah berfirman yang artinya: "Allah telah menurunkan perkataan yang baik (yaitu) Al-Qur'an yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhanya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang disesatkan Allah, maka tidak ada seorangpun pemberi petunjuk baginya". (QS 39:23).
Oleh karena itu, sebagai mu'min, interaksi kita dengan al-Qur'an haruslah sebaik mungkin, baik dalam bentuk membaca, mendengar bacaan, mengkaji dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Manakala interaksi kita terhadap Al-Qur'an sudah baik, maka mendengar bacaan Al-Qur'an saja sudah membuat keimanan kita bertambah kuat yang berarti lebih dari sekedar ketenangan jiwa, Allah berfirman yang artinya: "Sesungguhnya orang-orang yang beriman adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada Tuhanlah mereka bertawakkal". (QS 8:2).
Dengan berbekal jiwa yang tenang itulah, seorang muslim akan mampu menjalani kehidupannya secara baik, sebab baik dan tidak sesuatu seringkali berpangkal dari persoalan mental atau jiwa. Karena itu, Allah Swt memanggil orang yang jiwanya tenang untuk masuk ke dalam syurga-Nya, Allah berfirman yang artinya: "Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jamaah hamba-hamba-Ku dan masuklah ke dalam syurga-Ku". (QS 89:27-30).
Akhirnya, menjadi tanggung jawab kita bersama untuk memantapkan ketenangan dalam jiwa kita masing-masing sehingga kehidupan ini dapat kita jalani dengan sebaik-baiknya.
Diposting oleh
ALLES GUTE!
di
18.51
0
komentar
